Bahasa berfungsi sebagai alat:
- Berkomunikasi
- Mengekspresikan diri
- berintegrasi & beradaptasi social
- Kontrol social
Contoh: ceramah agama.
Ragam bahasa yaitu variasi bahasa yang terjadi karena pemakaian bahasa
Berdasar media Pengantarnya
- Ragam lisan
- Ragam tulis
- Ragam formal = (Saya, Anda, Saudara, Bapak, Ibu,Saudara.)
- Ragam semiformal = (Aku, Kamu, Bung, Mas, Dik, Mbak)
- Ragam nonformal = (Gue, Ane, Lu, Neng, Situ)
- Merupakan ragam tinggi, bersifat formal
- Memiliki sifat:
*Cendikia àlogis, masuk akal
LARAS BAHASA
Laras bahasa yaitu kesesuaian bahasa yang dipakai dengan fungsi pemakai. bahasa dengan ciri tertentu yang dipakai (difungsikan) untuk keperluan tertentu.
Macam-macam laras bahasa:
- Laras ilmiah
- Laras sastra (puisi, cerpen, novel,dll.)
- Laras jurnalistik (berita, editorial,iklan, dll.)
- Laras hukum
- Laras kedokteran
- dll.
- Bahasa yang baik dan benar adalah bahasa yang maknanya dapat dipahami dan sesuai dengan situasi pemakainya serta tidak menyimpang dari kaidah .
Mengeja : kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata.
SEJARAH EJAAN DALAM BAHASA INDONESIA
1. Ejaan Van Ophuijsen à(1901 – 1947) = Seorang guru besar Belanda & pemerhati bahasa Indonesia
2.Ejaan Republik (ejaan Suwandi) à (1947 – 1972) = Menteri PP dan K RI saat itu
3. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) à 16 Agt. 1972 – sekarang)
PENULISAN UNSUR SERAPAN
* Unsur serapan diambil dari bahasa daerah dan bahasa asing
* Berdasar integritasnya, unsur serapan dibagi menjadi:
a. Belum sepenuhnya terserap kedalam bahasa Indonesia, pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Misal: reshuffle, shuttle cock
b. Pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia
Misal:
haemoglobin menjadi hemoglobin
authentic menjadi autentik
colonel menjadi kolonel
central menjadi sentral
technique menjadi teknik
DIKSI
- Penggunaan kata dalam berbagai kesempatan harus memperhitungkan ketepatan dan kesesuaiannya.
- Tepatà makna, logika, maksud
- Sesuaià konteks social
- Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.
- Membentuk gaya ekspresi yang tepat sehingga dapat diterima dengan tepat oleh pembaca.
• Kalimat merupakan bentuk bahasa atau wacana yang digunakan sebagai sarana untuk menuangkan dan menyusun gagasan secara terbuka agar dapat dikomunikasikan kepada orang lain (Mustakim, 1994).
UNSUR KALIMAT
a) SUBJEK
• Bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, sosok (benda), semua hal, atau masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan.
• Subjek biasanya berisi:
– Kata/frasa bendaàMeja direktur besar.
– KlausaàYang berkumis tipis adalah kekasihku.
– Frasa verbalàMembangun sistem informasi akuntansi sangat mahal.
• Dapat pula dikenali dengan cara memakai kata tanya siapa (yang), apa (yang) kepada PREDIKAT.
• Jika jawaban tidak logis maka tidak ada Subyek
b) PREDIKAT
• Predikat menyatakan :
– keadaan yang dilakukan oleh S
– Sifat, situasi, status, ciri atau jati diri S
– Jumlah sesuatu yang dimiliki S
• Bagian kalimat menghubungkan antar S dengan O dan K
• Dapat berupa kata/frasa berkelas verba, adjektifa, numeralia (kt. Bilangan), dan nomina (benda)
- Contoh
- Ibu sedang tidur siang à melakukan apa ibu?
- Putrinya cantik jelita àbagaimana putrinya?
- Kota Tanggulangin dalam acaman lumpur. àBagaimana situasi kota Tanggulangin?
- Lusi seorang penyanyi à memberi tahu status Lusi
• Bagian kalimat yang melengkapi P.
• Objek pada umumnya diisi oleh nomina, frasa nominal, atau klausa.
– Nomina = buku
– Frasa Nomina = buku sejarah
– Klausa = buku sejarah pertempuran bangsa Melayu
• Letak O selalu di belakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang memerlukan O
– Contoh:
– Harmanto membuat …
– Sistem analisis merancang …
Membuat, merancang à verba transitif à P yang memerlukan O
• JikaP diisi oleh verba INTRANSITIF maka O tidak diperlukan.
• Sehingga kehadiran O dalam kalimat dikatakan TIDAK WAJIB HADIR.
Contoh:
– Nenek mandi.
– Ayah tidur.
– Tamunya pulang.
–mandi, tidur, pulang à tidak perlu O
• Obyek dapat menjadi Subyek bila dipasifkan
– Harmanto menulis buku ini
– Buku ini ditulis oleh Harmanto
d) PELENGKAP
• Pelengkap atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P.
• Letak Pelengkap umumnya di belakang P yang berupa verba.
• Seringkali kita dibuat bingung antara Pelengkap dan O.
• Pelengkap tidak dapat menjadi Subyek bila dipasifkan.
• Jika kalimat ada O maka biasanya Pel terletak setelah (di belakang) O.
• Pelengkap dapat pula diisi oleh frasa adjektiva dan frasa preposisional
– Frasa adjektiva = benar sekali, sudah tidak layak
– Frasa preposisional = di, ke, dari sampai, selama, sepanjang
e) KETERANGAN (Ket)
• Bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal tentang bagian kalimat yang lainnya.
• Unsur Ket dapat berfungsi untuk menerangkan S, P, O, dan Pel.
• Dimanakah posisi keterangan itu? Bisa di awal, tengah, dan akhir kalimat.
- Contoh Menghilangkan pengulangan subyek
- Contoh Menghindarkan pemakaian superordinate pada hiponimi kata
- Contoh Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat
- Obyek kalimat aktif menjadi subyek pada kalimat pasif dan subyek pada kalimat aktif menjadi pelengkap pada kalimat pasif. Predikat diisi oleh verba berawalan (me N-)
- Pelengkap pada kalimat pasif menjadi subyek pada kalimat aktif, dan subyek menjadi Obyek. Predikat diisi oleh verba berawalan (di-)